Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2012

Ketahuilah

Sederhana saja,
cinta datang di sela gelak tawa dan seruput kopi, senja itu!
cinta tiba di antara bait puisi yang membiru!
kau dan aku, sesekali saling lirik, beberapa kali melempar senyum
barangkali adalah aku yang terlalu tersipu, atau kau yang sengaja memujaku?


Cinta yang hadir dengan cara paling sederhana
ketika ufuk barat memerah, dan alunan gitar pelan-pelan menggoda
dan gelas-gelas berisi kopi yang pekat telah tandas
bayangmu mulai terpenjara, di mataku yang malu-malu
Ya, hanya kau yang bikin aku begitu!

Jumat, 14 Oktober 2011

Sajak Sang Pelacur

Masih ada sisa gincu pada bibirku yang kemerahan
Yang kata mereka begitu menggoda
Yang kata mereka tak sabar mengecupnya
Peluh di sekujur tubuh belum lagi kering
Bersimbah anggur dan bir murah warung kopi
Tawa lelaki masih tertinggal di telingaku
Bau asam mereka masih tertancap di penciumanku
Bah...
Orang orang bilang aku pendosa
Mereka menyumpahku celaka
Tapi, bagaimana lagi?
Hidup semakin duka saja
Tanpa rupiah, sama saja kita berdiam di hampa udara
Biarlah, biarlah
Asal anakkku bisa meraup setangkup roti
Jangan sampai ia tahu, jangan sampai ia mengerti
Takkan sanggup bila ia membenciku sepenuh hati
Tuhan,
Mungkin memang suratan takdir mencatatku sebagai seorang pelacur...


**terinspirasi dari seorang kupu-kupu malam, yang berjuang melawan keras kehidupan**

31052011

Bosan

Selamat malam, Bosan

Nampaknya kau tak bosan-bosannya padaku

Padahal aku sudah begitu bosan

Waktu-waktu kemarin, tadi pagi

Kenapa kau datang lagi?

Ah, Bosan!

Aku bosan padamu, tak tahukah kau?

Baru saja aku hening sejenak untuk mengenyahkan kebosananku

Tapi kau dengan lancangnya tiba

Muncul di depanku dengan seringai membosankan

Dan rayuan-rayuan gombalmu, serta keluhan serakmu

Kau tak peduli meski aku memekik karena bosan

Aku bosan, Bosan!

Sungguh, aku benar-benar bosan!


11062011

Luka Ibu

ah, ibu aku tidak mengerti ucapanmu

berapa kalipun kau sebut itu, ia tak jua tertoreh di benakku

diam-diam, ibu

aku sulit memahami

hanya saja kau terbiasa melirih dalam tangis

satu pesan, menjadi dua-tiga-seterusnya

izinkan aku mengais, tapi aku tak berani

aku memang pelupa, kadang pun lara tak lantas kuingat-ingat

sejuta nada bagiku tak ubahnya bagai desah

menghujam dalam luka, lalu bersimbah darah

akankah cinta menghapus dukamu, ibu?

tak lagi aku bertanya

aku ngeri pada jawaban, aku mati oleh kenyataan

bisa-bisanya kau menoreh belati, menghunus tajam

aku bisa luka, ibu

karena aku tidak mengerti?

bukan, kuyakin bukan itu

kalaulah bisa kuobati lukamu, akan

jangan lagi menyepi, ibu, kutahu kau tak mau begitu

kalau cinta saja bisa kau beli, itukah pula kebahagiaan?

maaf, bu

selamanya aku takkan pernah paham


21062011

Senja, Rokok, dan Kau

Senja tadi baru saja kita berceloteh, ditemani angin, polusi, dan bergelas-gelas kopi hitam.

Senja tadi kita merenung, lalu kau tertawa-tawa, melepas sajak.

Aku terdiam, menyaksikan angin mencumbu anak rambutmu.

Menyaksikan gurat kasar di wajahmu

Menyaksikan puntung rokok yang terselip di bibirmu

Aku hirau pada lalu-lalang, pada pengamen-pengamen kecil bertelanjang kaki, mencari receh

Aku usah pada deringan nada pesan yang bersahut-sahut

Mataku terpaku, pada asap nikotin yang membumbung jauh. Pada kopi dan seruput satu-satu

Senja tadi, sampai batas ia sembunyi di balik cakrawala

Ketika sajak, prosa, dan canda berpadu hening semata.

Sampai pada ampas rokok ketiga

Sebetulnya aku benci, aku terlanjur cemburu

Pada rokok yang kau hisap dengan nikmat itu, ah...

Kalau saja itu bibirku!


19072011

Senin, 03 Oktober 2011

Hujan Sore Itu..

riap riap anak air membasahi anak rambut

lipstik merahku luntur

gaun berendaku basah

ada surat di genggaman yang lapuk oleh hujan

tinta-tinta yang berkaburan

dan desember menjadi akhir dari segala awal

lupakan saja pada komidi putar dan permen kapas

juga jemari bertaut, juga kecup-kecup malu

khayal lantas menjadi pudar

hari itu,

kita berpisah


15062011

Manusia

manusia apatis pongah dan berlidah dua

menyimpan bisa melolong menari mereguk cinta

senyum-senyum bertopeng tabir muka penuh bopeng

itu mungkin aku

kau

kami

mereka

terbahak kini menangis nanti

merindu esok merintih lusa

maya

ia meniupkan jampi.

kuali berkuah menggelegak nyata, meski palsu

malam-malam saat matahari sudah lama tidur. mengendap-endap

membungkus asmara, terengah mengecap nikmat

dan tak sadar kokokan ayam sahut-sahutan

ia pernah lalai. tapi tak pernah capai

memang iman berupa gunung juga kandas dilalap api

ia tidak mau begitu, ia tanam kembali. dipupuki dengan tinja kerbau, tak ada uang.

lamat laun, lahannya berubah. tak lagi berupa kotoran ia kini menjelma laut.

subuh-subuh saat air lebih dingin dari embun

manusia

manusia

hanya saja... manusia


14062011

Senin, 14 Juni 2010

Cerita Tentang Kerinduan

Kerinduanku membuncah

Pada lantai marmer yang dingin

Pada pilar-pilar kokoh berlapis emas

Pada keharuman air zam-zam

Sebagian jiwaku tertinggal di sana

Menari bersama kawanan burung-burung ababil

Lantunan dzikir, ayat-ayat yang syahdu

Lembut bagaikan sutra kiswah berbenangkan emas

Sungguh, kerinduanku memenuhi segenap jiwaku

Mengakar dalam relung-relung sanubari

Mengalir bersama derai airmata yang senantiasa tumpah ruah

Air terjun di lembah kerinduan

Lama aku dalam sujud panjangku,

Aku mendengar sang bilal dengan merdu berkata:

Rabbana walakal hamd...

Adzan yang mendayu-dayu

Lautan manusia yang berjalan seirama,

Mengelilingi suatu pusaran bernama Ka’bah

Berlari kecil di sepanjang Shafa-Marwah

Berlomba-lomba mencari cinta-Nya

Dan aku menyesal,

Saat belum sempat bagiku untuk merasakan wewangian

Batu hitam dari Surga

Saat belum sempat bagiku berlama-lama

Bercengkerama dengan Sang Kekasih

Di sana..... di bawah rembulan di langit Makkah

Aku rindu, Allah..... begitu pilu

Sudah tak sabar lagi

Ia menyentak-nyentak dalam denyut nadiku

-dalam kerinduan, 10 Jun. 10